What Is 0 ^ 0?

Quick questions:

What is 2 ^ 3? 8

What is 10 ^ 2? 100

What is 912873683428920348791239817231928370 ^ (200 – (40 * 5)) ? 1

Very good. It is an easy test, right? Yes indeed. OK let’s try another question: what is 0 ^ 0?

I repeat: what is 0 ^ 0?

..

..

Give up? OK. This time I’ll answer this question programmatically, not mathematically (there are several approach used to tackle this problems: limit, set theory, etc). Here’s the X86 assembly to outline the idea:


format PE console 4.0

include 'win32a.inc'

entry start

section '.data' readable executable
num1 dd 0
num2 dd 0
fmt db "%d",0

section '.code' code readable executable
start:
mov ecx, [num1]
mov eax, [num2]
mov ebx, ecx

process:
cmp eax, 1
jg multiply
je done

multiply:
imul ecx, ebx
dec eax
jmp process

done:
invoke printf, fmt, ecx
invoke ExitProcess, 0

section '.idata' import data readable writable
library kernel32,'kernel32.dll', msvcrt, 'msvcrt.dll'
import kernel32, ExitProcess, 'ExitProcess'
import msvcrt, printf, 'printf'

The output is, surprisingly (or not surprisingly) 0.

I expect careful readers to complain that I’m cheating, since the output of the code will always be 0.

No, I’m not cheating. May I suggest you to play with the code yourself? Probably you’ll be even more surprised :mrgreen:

Mak Comblang

Tanpa sengaja mendengarkan percakapan seru beberapa orang ibu di siang hari*…

Ibu #1: Eh tau gak kalo dokter X itu ternyata masih single. Padahal umurnya mendekati 50 tahun loh.

Ibu #2: Hah? Ah masa sih?

Ibu #1: Iya bener dia masih single. Aku kaget juga. Jadi maksudnya aku mau kasih kado Natal ke dia. Nah sebelumnya nanya dulu ke orang2 di RS apakah dia sudah beristri atau belum. Biar gak salah ngasih kado gitu loh. Eh ternyata bener dia masih single

Ibu #3: Wah sayang juga yah umur segitu blom nikah… (berpikir sebentar)**.. Ah iya tiba2 aku jadi inget si B kan masih single. Gimana kalo kita coba jodohkan dia dgn dr X?

Ibu #1: Ahahaha… apa B mau?

Ibu #2: Jodohin gimana?

Ibu #3: Ah gampang. Begini. Aku pura2 sakit. Jadi nanti aku minta B temani aku konsultasi ke dr X. Nah kalau mereka sudah ketemu, bisalah aku atur2 biar jadi.

Ibu #1 & Ibu #3: WAKAKAKAKAKAKAKA……

Sebagai pendengar… gw bingung antara harus ketawa atau face palm. Serius.

 

*: Sudah dimodifkasi tentunya, tapi tanpa bermaksud menambah/mengurangi esensi cerita.

**: Heran ibu2 ini kalo urusan comblang-mencomblang kreatif sekali.

 

Tidak Saling Mengejek

Dua buah kelompok, sebut saja kelompok A dan B, memutuskan untuk tidak saling mengejek.

Paling tidak ada 3 kemungkinan penyebab:

  1. Mengejek itu tidak ada gunanya. Lebih baik saling membantu. (Ini jawaban pragmatis tipikal dari pelajaran PPKn/Budi Pekerti. Tapi ayolah, siapa yang jujur suka membantu orang lain? :mrgreen: )
  2. Saling mengakui kelompok yang lain itu OK. Kelompok yang satu adalah bro dari kelompok yang lain. Jadi setelah melakukan bro fist sebagai tanda penghormatan, maka bubar. Gak ada acara ejek-ejekan (OK ini memang khayalan, tapi bukankah dunia menjadi lebih damai jika semuanya seperti ini :mrgreen: )
  3. Menyadari kejelekan masing-masing. Yang sudah dijelek itu gak akan tambah jelek jika dihina lagi. Jadi daripada buang-buang waktu, memang gak perlu mengejek (Ini mungkin juga jawaban khayalan, tapi saya pikir justru inilah jawaban yang paling pragmatis :mrgreen: )

Mungkin ada yang mau menambah poin 4, 5, dst? :mrgreen:

Stop Procrasturbating

Stop procrasturbating.

OK, what does the term procrasturbating mean?

Well, there are several possibilities:

  1. Procrastinating and masturbating at the same time.
  2. Procrastination which is done by masturbating.
  3. Procrastination which gives such pleasure like masturbating.
  4. Errr..
  5. Umm..
  6. …..
  7. OK I’m out if idea. Help, pretty please?

Anyway, the fact that I just wrote this blog post (during office hour) obviously means that I’m procrastinating.

:mrgreen:

Malas Datang Ke Acara Keluarga

Kadang kala saya malas datang ke acara keluarga. Kalaupun datang, mungkin gak betah lama2, dan langsung pengen balik atau cabut entah kemana. Bukannya bermaksud antisosial, tapi apa hendak dikata, situasinya memang demikian.

Di satu keluarga, kebanyakan sepupu masih SD. Main2 & lari2 sana-sini. Berisiknya bukan main. Rasanya pengen nendang. Berasa tua sendiri dah.

 

 

 

 

 

 

 

 

Di keluarga yang lain, ada aja sanak saudara yg kadang2 suka nyenggol/nyikut sambil cengar-cengir nanya “Hehe gimana? Udah ada calon?” atau “Kapan tanggalnya?” :mrgreen:

And suddenly I feel like:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

..

..

..

 

 

 

 

 

 

 

..

..

..

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ya, begitulah adanya…

Sebelum Interview

Baru aja terima telfon. Isinya kira2 begini (X: kantor interviewer, A: gw)

X: Halo selamat siang, ini dengan Pak Andre?

A: Oh ya betul. Ada apa yah mbak?

X: Kami dari PT ABCXYZ pak. Apakah bapak bisa diinterview pada hari sekian jam sekian di tempat ini bla bla bla?

A: Uhmm, bisa mbak.

X: OK pak Andre. Oh ya, jangan lupa bawa BlackBerry yg sudah terinstall dgn aplikasi2 yg bapak buat. Biar bisa diliat.

A: Uhh OK. Baiklah mbak. Terimakasih. Selamat siang.

Kudu bawa BB yg udah diisi ama apps yg dibuat dulu.

 

 

 

 

 

 

 

 

Berhubung gak punya BB, kudu nyari BB pinjeman dulu. Lha piye tho, ngakunya BB developer tapi gak punya BB?

Rasanya tadi pengen jawab “Oh maaf mbak, Lagi gak punya BB. Tapi gini aja deh. Saya kasih link2 donlotnya. Kalo gak saya kirim *.cod-nya.OK mbak?” :mrgreen:

Flame War & Integrity

Let’s say somehow you are being involved in the middle of a flame war. Accidentally, or on purpose. You cannot beat your oponent’s arguments. You are cornered. So, what should you do to equalize your postion?

One easy way is to use personal insults. Of course, this could lower your integrity. Not a a good idea.

But actually the bad news is getting involved in a flame war alone already lowered your integrity. Better run away as soon as possible :mrgreen: